Tentang Kurban

Ketika Allah memerintahkan kepada umat untuk berkurban, bukan semata-mata hanya perkara ibadah, namun juga tentang upaya untuk membangkitkan ekonomi umat. Sebab, pada saat umat merayakan Hari Raya Idul Adha, terdapat potensi perputaran ekonomi dengan nilai yang besar. Dari aktivitas menjelang, pada saat Idul Kurban hingga sesudahnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pada peternakan di desa-desa.

Indonesia adalah negara dengan luas daratan berjuta kilometer persegi dengan kondisi alam yang kaya, menjadi “surga” bagi kehidupan hewan ternak. Dan hingga saat ini, usaha peternakan yang ada di Indonesia tetap didominasi oleh peternakan rakyat, namun dengan kapasitas produksi yg masih rendah jika dibandingkan dengan tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat. Kapasitas produksi yang rendah ini diperparah dengan pemakaian metode beternak yang masih tradisional.

Meski menjadi tulang punggung peternakan Indonesia, namun nasib peternak tradisional di negeri sendiri ternyata tidak juga cemerlang. Mereka kekurangan modal, kurang mampu membeli indukan yang berkualitas, sulit memperoleh pakan bermutu yang berbiaya serta kesulitan dalam mencegah dan mengatasi wabah penyakit.

Peternak di desa, biasanya hanya menjadi buruh penggembala kambing tanpa dapat merasakan daging maupun keuntungan besar dari penjualan hewan ternaknya. Melalui program ini peningkatan kesehatan masyarakat desa, perputaran ekonomi di desa akan memberdayakan masyarakatnya.

Pada Hari Raya Idul Adha tahun ini, BAZNAS mengajak masyarakat untuk melaksanakan “Kurban Berdayakan Desa”, yakni aktivitas kurban yang memindahkan perputaran ekonomi dan manfaatnya dari kota kepada masyarakat desa. Dengan membeli, menyembelih dan mendistribusikan daging kurban di desa, dapat menjadi sumber devisa bagi masyarakat khususnya di pedesaan melalui pemberdayaan peternak desa. Perputaran roda ekonomi di pedesaan akan mampu membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Peningkatan gizi dan ekonomi akan sangat dirasakan oleh para penerima manfaat di desa.


Manfaat Program

1. Memberdayakan peternak kecil di desa mulai dari pembenihan hingga penjualan hewan kurban.
2. Mendorong tata niaga ternak di desa.
3. Meningkatkan gizi penerima manfaat yang jarang atau tidak pernah makan daging.
4. Meningkatkan industri turunan dari peternakan (kulit, benih, pakan ternak, dll).
5. Meningkatkan perekonomian desa melalui distribusi uang dari kota ke desa.
6. Gotong royong masyarakat desa dalam pendistribusian daging hewan kurban.

BAZNAS menyerap hewan kurban yang telah dipersiapkan oleh peternak kecil di desa-desa dengan harga yang terbaik. Sehingga meningkatkan perekonomian para peternak kecil di desa. Kurban Anda akan dibeli, dipotong, dan didistribusikan ke 108 desa di 20 provinsi di Indonesia. Berkurban dari, oleh, dan untuk desa.


Target penerima manfaat kurban:

1. Daerah miskin dan tertinggal
2. Daerah pedalaman
3. Belum pernah atau jarang mengkonsumsi daging
4. Daerah program pemberdayaan peternakan BAZNAS
5. Komunitas adat terpencil
6. Mualaf


Nutrisi dan Kurban     Edit

Lima belas abad silam, Islam telah menyiratkan kebutuhan manusia akan karbohidrat, lemak, dan protein sebagai nutrisi dasar bagi kesehatan. Kebutuhan karbohidrat diungkapkan lewat zakat fitrah, sedangkan kebutuhan lemak dan protein diterangkan lewat berkurban.
Lemak dan protein banyak terdapat dalam daging. Seorang fakir miskin yang kesehariannya tidak mengkonsumsi daging, tentu kesehatan dan pertumbuhannya tidak sempurna. Hal ini disebabkan salah satu nutrisi pokoknya, yaitu lemak, tidak terpenuhi. Bahkan, beberapa vitamin yang dikonsumsi, tidak dapat dimanfaatkan karena ketiadaan lemak di tubuhnya.

Kurban adalah penyembelihan hewan ternak, yakni unta, sapi/kerbau, dan kambing), pada hari Idul Adha dan tiga hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengertian ini setidaknya mengandung tiga hal. Pertama, tidak semua hewan dapat disembelih untuk ibadah kurban. Hewan yang sah hanyalah unta, sapi/kerbau, dan kambing.

Para ulama menerangkan, seekor kambing menjadi kurban bagi satu orang. Rasulullah SAW bersabda, ''Alangkah baiknya menjadikan seekor kambing sebagai sembelihan kurban.'' (HR. Ahmad).

Sementara unta dan sapi/kerbau menjadi kurban bagi tujuh orang. ''Pada tahun terjadinya perjanjian Hudaibiyah, kami menyembelih seekor unta bagi tujuh orang, dan seekor sapi (juga) untuk tujuh orang.'' (HR. Muslim). Kedua, waktu penyembelihan dilaksanakan usai shalat Idul Adha hingga terbenamnya matahari di hari Tasyrik terakhir (tanggal 13 Dzulhijjah).

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, ''Sesungguhnya kegiatan pertama yang kita lakukan pada hari ini (10 Dzulhijjah) adalah shalat (shalat Idul Adha). Setelah itu kita pulang dan menyembelih kurban. Siapa yang berbuat seperti ini, maka ia telah menepati sunnah kita, dan siapa saja yang menyembelih sebelumnya (sebelum shalat Id), maka sembelihannya itu hanyalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, sedang ia tidak bernilai ibadah sama sekali.'' (HR. Muttafaq alaih).

Ketiga, orientasi penyembelihan hewan kurban ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penyembelihan yang dilakukan karena riya' atau ingin mendapat pujian, walau secara lahiriyah ia telah menyembelih, tetapi pada hakikatnya ia tidak melakukannya.

Meski daging kurban sampai kepada fakir miskin dan darahnya telah tumpah ke tanah, tak ada manfaat sedikit pun yang diterima Allah SWT, kecuali ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang melaksanakannya. Inilah substansi makna kurban yang sebenarnya.

Dermawan Mindset, Habit, dan Effect dalam Berkurban     Edit

Mengedukasi khalayak dermawan menuntut konsistensi agar dapat menyentuh batin dan memasuki bilik perasaan masyarakat sasaran. Berfilantropi adalah sebuah area yang sepenuhnya penyadaran dari hal-hal yang dirasa tidak rasional. Ada banyak alasan sehingga soal perasaan ini menjadi dominan.
Dalam bagan filantropi, terdapat tiga hal penting untuk ditilik lebih jauh yakni Dermawan Mindset, Dermawan Habit, dan Dermawan Effect. Ketiganya menjadi landasan dalam topik tema "Dermawan Berqurban" untuk launching program Qurban 2019, di Blora lalu.

Dermawan Mindset. Poin ini untuk menjadi starting point dalam memaparkan penyadaran filantropi. Tahapan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat untuk memiliki pola pikir Dermawan. Secara umum, tidak ada orang yang keberatan bila disebut Dermawan. Jika ikhtiar edukasi ini masuk dengan sapaan verbal (bahkan visual), hal ini akan menaikkan kelas masyarakat sasaran untuk memiliki Dermawan Habit.

Dermawan Habit merupakan spontanitas respons yang dimiliki seseorang yang telah terpapar edukasi kedermawanan. Dermawan habit ini membangun kesiapan seseorang untuk memasuki ekspresi kedermawanannya. Dengan realitas tertentu, kedermawanan yang tumbuh dalam dirinya siap ditunjukkan.

Lalu, bagaimana pola keseluruhan itu berlangsung? Dermawan Effect menjadi kelanjutannya. Seseorang yang telah memiliki Dermawan Habit siap menunjukkan dampak pemahaman yang dimilikinya.

Ekspresi dari Dermawan Effect ditunjukan dari kebaikan seseorang sebagai muslim. Misalnya, ia dapat unjuk kedermawanan (sebagai hal yang tangible) dengan hartanya.

Islam menerangkan, aktivitas menanam (pohon) pun dikategorikan sebagai perbuatan sedekah yang terpuji dan pelakunya memperoleh ganjaran dari Allah SWT. Betapa luas kasih sayang Allah SWT, tidak membatasi Muslimin yang berbuat baik kepada sesama Muslim saja.

Hal ini karena berbuat baik diperintahkan untuk disebarkan kepada seluruh manusia bahkan seluruh makhluk hidup, tidak terlepas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sebaran yang luas inilah yang menjadi esensi dari dermawan.

Urgensi kurban menjadi layak dibincang karena dua hal. Pertama, ada hak saudara seiman yang harus ditunaikan (dan ini layak menjadi perhatian utama kita untuk berkurban). Ini menjadi tujuan ke mana pergerakan filantropi secara masif hendak diarahkan. Kedua, kita sebagai Muslim bisa melihat peta dunia Islam, ke mana selebrasi kurban dialokasikan.

Di dalam negeri sendiri, banyak masyarakat Indonesia yang dilanda bencana dan penderitaan. Tanah air sendiri sedikitnya dihadapkan tantangan kekeringan. Di Jawa (sebagian besar di wilayah Blora, Rembang, dan Wonogiri; juga di wilayah Pati, Jepara, serta Grobogan), kekeringan diperkirakan berlangsung selama tujuh bulan.

Di Jawa Timur sendiri, diperkirakan ada 822 desa terancam kekeringan. Ada eskalasi yang meningkat dibanding tahun sebelumnya (tahun 2018 saja, ada 725 desa). Paparan kawasan kekeringan meluas, jumlah penyandang masalah kekeringan juga meningkat.

Sumber : Republika

Pahala Melaksanakan Kurban     Edit


"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sebuah sungai di surga (Al-Kautsar). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus" (Al-Kautsar: 1-3)


Dalam satu riwayatnya, Imam Ahmad meriwayatkan perihal turunnya ayat di atas, sahabat Anas bin Malik telah berkata: Suatu ketika Rasul sedang berbaring istirahat. Tiba-tiba beliau terbangun dan tersenyum. Melihat tingkah Rasul demikian, para sahabat yang pada saat itu berada di sekelilingnya bertanya, ''Mengapa engkau tersenyum, wahai Rasulullah?''

Rasul kemudian menjawab, ''Baru saja, Allah telah menurunkan sebuah surat kepadaku.''

Rasul pun membacakan surat yang dimaksud hingga selesai. ''Apakah kalian mengerti apa yang disebut dengan Al-Kautsar itu?'' kata Rasul.

''Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,'' jawab para shahabat.

Rasul menjelaskan, ''Al-Kautsar adalah sebuah sungai di surga yang memiliki banyak kebaikan, dan telah Allah berikan kepadaku.''

Dalam riwayat lain, Rasul juga mengilustrasikan Al-Kautsar sebagai ''sungai di surga yang tepiannya dikelilingi oleh emas, airnya mengalir di atas permata. Air sungai itu lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu''. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Makna al-kautsar menurut sebagian ahli tafsir adalah sebuah simbol dari sebuah kebaikan dan kenikmatan yang berlimpah yang akan Allah berikan pada kepada hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Nikmat itu akan diberikan kepada hamba-Nya yang mau beribadah dengan ikhlas, menjalankan shalat lima waktu beserta sunnat rawatibnya, mau berkurban hanya untuk Allah, dan tidak menyekutukan-Nya.

Itulah kemudian, mengapa Allah Ta'ala melanjutkan ayat ''Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu sebuah sungai di surga'' dengan ayat ''maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah''. Ayat pertama pada surat di atas merupakan kompensasi dari ayat kedua dan memiliki hubungan timbal balik.

Allah akan memberikan balasan yang setimpal kepada siapa saja yang beribadah dan menjalakan perintah serta menjauhi larangan-Nya. Atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan, seseorang harus bersyukur. Syukur yaitu menggunakan nikmat yang telah Allah limpahkan sesuai dengan jalan yang Ia kehendaki, yang semuanya berujung pada ibadah.

Kurban, seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat di atas, hendaknya tidak hanya sebatas ritual simbolis, tetapi memiliki makna yang lebih luas, yaitu jiwa berkorban, kesalehan sosial, serta menajamkan mata hati kita untuk jeli melihat saudara-saudara kita yang di bawah kita.

Dalam satu hadisnya, Rasulullah menggambarkan balasan orang yang berkurban, ''Tidak ada perbuatan yang paling disukai Allah pada Hari Raya Haji selain berkurban. Sesungguhnya orang yang berkurban akan datang pada hari kiamat dengan membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu. Dan sesungguhnya darah kurban yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah daripada (darah itu) jatuh ke bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban.'' (HR Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Allah A'lam

Sumber : Republika

Makna Penting Ibadah Kurban     Edit

Pada Idul Adha 2019 ini, BAZNAS menargetkan sebanyak 3.000 pemotongan hewan kurban. Besaran masing-masing hewan kurban bergantung pada permintaan donatur kurban kepada BAZNAS. 
Ibadah kurban hukumnya sunah muakad (sangat dianjurkan) bagi orang yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah, ''Barang siapa memiliki kelapangan keuangan, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia datang ke tempat shalat kami.'' (HR Ahmad). Perintah melaksanakan ibadah kurban mempunyai beberapa makna penting.
Pertama, ibadah kurban merupakan usaha Muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk mau dan dapat berkurban perlu melakukan mujahadah (berjuang), terutama mengendalikan hawa nafsu dan egoisme diri. Egoisme cenderung membuat orang lupa kepada Allah dan mengabaikan ajaran agama termasuk berkurban.

Kemauan berkurban terkait pula dengan ketakwaan seseorang. Takwa ini pula yang dinilai Allah dalam berkurban, seperti firman-Nya, ''Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.'' (QS 22: 37). Kedua, melaksanakan kurban merupakan wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang diterima selama ini.

Oleh karena itu, wajar sebagian nikmat yang diperoleh tersebut digunakan untuk menaati perintah Allah dengan berkurban. Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.'' (QS 108: 1-2). Ketiga, penyembelihan hewan kurban bertujuan membantu sesama, terutama yang kurang mampu melalui pendistribusian daging kurban kepada mereka.

Ini bukti kemurahan hati orang yang berkurban kepada sesama manusia. Melalui pembagian daging hewan kurban diharapkan tercipta kebersamaan dan persaudaraan antara sesama Muslim dan manusia secara keseluruhan. Persaudaraan yang hakiki terwujud ketika manusia saling menyayangi, saling menyantuni, saling memberi. Yang kaya memberi yang miskin dan yang kuat membantu yang lemah. Ibadah kurban merupakan salah satu upaya Islam mewujudkan cita-cita ini.

Keempat, kurban yang dilakukan dengan menumpahkan darah hewan adalah simbol agar orang berkurban menanggalkan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya, misalnya sifat bengis, licik, dan egoisme. Begitu pula melalui kurban seorang Muslim diminta menanggalkan penghambaan sesama makhluk, karena Islam hanya membenarkan penghambaan kepada Allah.

Semua sifat-sifat yang buruk ini harus dijauhkan dari kehidupan Muslim, kapan dan di manapun. Dalam pengertian lebih luas, upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berkurban, bukan hanya dengan menyembelih hewan, tapi bisa juga dalam bentuk lain.

Misalnya memberikan sebagian harta kita untuk kemaslahatan umat, seperti membantu fakir miskin, membangun tempat ibadah, sarana pendidikan, dan berbagai kepentingan umat lainnya. Nilai dan makna kurban di atas perlu dimiliki setiap komponen bangsa untuk mengisi pembangunan ke depan dan guna menumbuhkan solidaritas antarsesama anak bangsa. Ini perlu digarisbawahi karena kini semakin langka saja orang yang mau berkurban untuk kepentingan orang lain.

Esensi Menunaikan Ibadah Kurban     Edit

Pada Idul Adha 2019 ini, BAZNAS menargetkan sebanyak 3.000 pemotongan hewan kurban. Besaran masing-masing hewan kurban bergantung pada permintaan donatur kurban kepada BAZNAS. 

Ibadah kurban tidak semata-mata pengorbanan dari orang yang berkurban. Dengan kata lain, ibadah kurban justru memberi keuntungan kepada yang bersangkutan. Secara bahasa kurban diambil dari kata qaraba-yaqrabu-qurbanan, yang artinya pendekatan atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah kurban, dengan begitu, memberi makna bahwa segala perbuatan yang menyebabkan bertambah dekatnya seseorang dalam perjalanannya menggapai ridha Allah SWT.

Dengan makna seperti itu, maka esensi atau nilai ibadah kurban bukan terletak pada besar kecilnya atau sedikit banyaknya hewan kurban yang disembelih. Tetapi, yang justru terpenting, adalah bagaimana tingkat ketakwaan seseorang ketika melaksanakan ibadah kurban. Allah SWT berfirman: ''Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.'' (Al-Hajj: 37).

Selain itu, dalam ibadah kurban juga tersirat pesan-pesan rohani agar kita ikut aktif dan bertanggung jawab untuk menciptakan suasana persaudaraan. Ini disyaratkan Alquran melalui firman-Nya: ''Maka, makanlah sebagian dari padanya dan sebagian lagi untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir.'' (Al-Hajj: 28).

Esensi yang terkandung dalam pesan kurban tersebut memberikan metafora agar setiap pribadi memiliki empati sosial yang tinggi. Dengan berempati berarti kita merasakan denyut penderitaan orang lain sebagaimana Rasulullah SAW selalu bergetar hatinya setiap kali melihat penderitaan orang lain.

Tentu saja kita rindu terhadap figur suri teladan yang melekat pada diri Rasulullah SAW. Beliau adalah figur yang sangat peka terhadap penderitaan orang lain. Sikap seperti inilah yang tentu saja sangat dibutuhkan pada kondisi kini. Melalui ibadah kurban inilah diharapkan kepedulian kita untuk melaksanakan perintah Allah sebaik-baiknya akan tumbuh berkembang dengan optimal. Demikian pula kepedulian kita terhadap para mustahiq-nya, yakni orang-orang yang membutuhkan hewan kurban yang kini jumlahnya semakin hari semakin banyak.

Karena itu, bagi kaum Muslimin yang diberikan kelapangan rezeki oleh Allah SWT agar segera berkurban, dalam rangka menumbuhkan ketajaman hati, pikiran, dan perasaan sosial. Dengan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, yang berada di berbagai daerah, kita akan merasakan denyut kemiskinan mereka. Dengan demikian, akan meningkatkan kepedulian kepada mereka, terutama kaum dhuafa, yang merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai saudara seiman. Dengan menumbuhkan semangat ingin berbagi dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri yang tak ternilai harganya bagi mereka yang berkurban.

Pada hari raya kurban mendatang, mudah-mudahan semakin banyak kaum Muslimin diberikan kesadaran untuk berkurban demi saudara-saudaranya, dan bukan malah mengorbankan saudaranya.

Sumber : Republika

Kurban dan Cinta     Edit

Pada Idul Adha 2019 ini, BAZNAS Jatim menargetkan sebanyak 3.000 pemotongan hewan kurban. Besaran masing-masing hewan kurban bergantung pada permintaan donatur kurban kepada Baznas. 

Ibrahim berkata, ''Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'' Ia menjawab, ''Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'' (QS Ash Shaffat: 102).

Berkurban pada Idul Adha adalah bentuk pengagungan cinta kepada Sang Khalik. Allah SWT menguji kecintaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail, yang sangat dicintainya.

Cinta Ibrahim terhadap Allah SWT, dan cinta Ismail terhadap ayah dan Tuhan-Nya, menjadikan keduanya ikhlas dan patuh melaksanakan perintah itu. Meski, Allah SWT menggantinya dengan seekor kambing.

''Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.'' (QS Ash Shaffat:107). Ritual kurban yang telah menjadi syariat Islam ini adalah untuk mengenang perwujudan konsep cinta dan kemanusiaan. Pengorbanan untuk sesama dalam rangka membina persaudaraan antarmanusia.

Ada beberapa keteladanan yang patut ditiru dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail ini. Pertama, terasa benar bahwa Allah SWT sebagai Dzat yang Penyayang dan Pemurah pada umat-Nya. Dia tidak hanya membatalkan penyembelihan Ismail, tapi sekaligus memberi ganti seekor kambing kepada hamba yang taat dan mau mengorbankan miliknya karena cinta kepada-Nya.

Kedua, Allah SWT mengajarkan bahwa hidup manusia sangatlah berharga. Dia tidak ingin mengorbankan satu manusia untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Dia tidak semena-mena terhadap yang lemah.

Ketiga, cinta sejati diwujudkan dengan kerelaan berkorban. Berkorban karena rasa cinta kepada-Nya. Wujud cinta kepada Allah SWT adalah kerelaan hidup dengan kesalehan. Dalam konteks Islam, seluruh hidup adalah ibadah. Esensi ibadah, mengatur hubungan yang baik dengan Allah SWT dan antara manusia dengan sesamanya.

Damai antara manusia ini salah satunya diwujudkan dengan kurban. Menyembelih hewan ternak dan membagikannya kepada fakir miskin, kepada mereka yang kurang mampu.

Sebab, cinta dan ketaatan kepada Allah SWT tidak saja diwujudkan dalam bentuk ibadah mahdhah, tetapi harus terealisasi dalam tindakan nyata, utuh, dan cinta terhadap sesama manusia.

Allah SWT menguji kesediaan mengorbankan sebagian harta yang dimiliki untuk membantu mereka yang kekurangan. Sebagaimana Ibrahim mengorbankan Ismail yang dicintainya untuk Allah SWT.

Inilah ibadah sesungguhnya, menyembah Allah SWT dan berkorban karena cinta untuk sesama. ''Siapa yang memiliki kelapangan, tetapi tidak mau berkurban, janganlah dia mendekati tempat shalat kami.'' (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah). Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Sumber : Republika

Ujian Keikhlasan Melalui Kurban     Edit

Pada Idul Adha 2019 ini, BAZNAS menargetkan sebanyak 3.000 pemotongan hewan kurban. Besaran masing-masing hewan kurban bergantung pada permintaan donatur kurban kepada BAZNAS. 

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya" (QS Al Hajj: 37).
Apa yang sebetulnya terjadi ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putranya sendiri, Ismail, yang sangat disayanginya? Apakah mungkin Tuhan sekejam itu? Namun yang sangat menakjubkan adalah Ismail begitu pasrah dan ikhlas menghadapi perintah Allah SWT kepada ayahnya. Fenomena itu menjelaskan satu hal: keikhlasan menerima dan menjalankan perintah Allah SWT.

Ibrahim dan Ismail telah membuktikan keikhlasan tersebut, dan keduanya telah meraih ganjaran yang mulia. Sesaat mata pisau Ibrahim hampir menyentuh kulit Ismail, seketika itu Allah SWT mengirimkan domba sebagai ganti kurban tersebut. Ismail selamat, Ibrahim pun lulus ujian.

Ayah dan anak itu terpilih sebagai nabi-nabi yang memiliki kedudukan tinggi. Ujian keikhlasan itu pula yang Allah SWT berikan kepada umat Islam lewat Idul Adha (hari raya kurban). Allah berfirman, Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang melimpah. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. (QS Al Kautsar: 1-2).

Dalam ayat yang lain, Allah menyatakan, Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahaesa. Karena itu, berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (QS Al Hajj: 34).

Mengenai keutamaan berkurban dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim, sebagai berikut, "Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kakinya."

Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang hidup berkecukupan. Bahkan, mereka mempunyai kelebihan uang maupun bahan makanan. Mereka memiliki pendapatan yang melebihi keperluan, dan pasti bisa disisihkan sebagian. Terhadap merekalah, Allah mengirimkan perintah berkurban.

Walaupun berkurban ini hukumnya sunah muakkad (pekerjaan sunah yang sangat dianjurkan), kurban merupakan amalan utama yang biasa dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, dan orang-orang saleh.

Syariat berkurban adalah ujian Allah terhadap keikhlasan hamba-hamba-Nya dalam menjalankan perintah. Mampukah sang hamba melawan hawa nafsu kekikiran dan ketamakan dalam dirinya? Dan, bisakah sang hamba mendidik dirinya untuk selalu mensyukuri karunia rezeki yang telah diterimanya? Itulah yang bernama takwa, dan ketakwaan itulah yang dapat membawa seorang hamba kepada keridhoan Allah SWT.

Order mudah! via WhatsApp.

Instant Checkout dengan Contact Form WhatsApp.

Online 1x24 Jam!

Apapun pesananmu, CS (Customer Service) kami akan dengan senang hati untuk melayani.. :)

Kualitas Terbaik!

Kami memastikan, produk yang kami kirim sesuai dengan Ekspektasi pembeli.
1 Butuh bantuan?

×